Jumat, 20 Juli 2012

Aku Bangga Padamu Ibuku Sayang :')

Tiga huruf yang menyusun sebuah kata dan memiliki makna sangat spesial buat diriku pribadi, betapa tidak? ketegaran serta kesabaran beliau tak kan pernah terukur oleh satuan apapun dalam ilmu matematika. Ketegaran beliau dalam mengurus serta mengatur rumah tangga tak perlu diragukan lagi. Posisiku sebagai si bungsu di keluarga besarku selalu memperhatikannya setiap saat dikala waktu senggangku. Aku sebagai si bungsu yg selalu dimanja olehnya juga selalu mendapatkan perlakuan spesial darinya karena terlalu manjanya sikapku saat itu. Ibu yang selalu ada waktu untukku walau sekedar memberikan kecupan kecil dipipiku. Ibu yang selalu menjemputku ketika aku sedang bermain dengan teman sebayaku hingga lupa waktu, ibu yang selalu menjaga waktu makanku meskipun beliau kadang terlupa dengan waktu makannya sendiri karena sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan tentunya mengurusku sebagai anak yg paling dimanjakannya, ibu yang selalu menyajikan makanan spesial di meja makan keluargaku setiap harinya, ibu yang selalu setia mendengarkan cerita tentang apa yang kulakukan dan kulalui setiap harinya, ibu yang selalu mengajakku beribadah, ibu pula yang setiap malamnya selalu menanyakanku apakah ada PR dari guruku, ibu yang selalu memelukku setiap malam hingga aku tertidur dipelukkan hangatnya.


Masih teringat dengan jelas tingkah manjaku saat itu, saat di pagi hari di mana ibu selalu disampingku. Ketika hendak berangkat sekolah, aku tak kan mau berangkat sekolah sebelum mencium kedua pipi dan dahi ibuku, di pagi hari yang masih sunyi dia selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadaku, ketika itu pula aku selalu menikmati bermanja dengannya, ketika beliau menyiapkan sarapan untukku, ketika ibu memakaikan baju seragam sekolah. Ooh betapa manjanya aku saat itu, hingga membuat kakak-kakakku iri padaku. Aku juga tak kan pernah lupa harum bedaknya ketika pagi hari mencium pipinya, dan harum keringatnya ketika aku pulang sekolah memeluknya. Aku tak pernah menyalahkan beliau karena sangat jarang mengantarku ke sekolah semasa aku TK ataupun sudah SD, karena saat itu aku tau dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, ketika beliau sudah selesai dengan pekerjaan dapurnya dipagi hari menyiapkan sarapan, beliau lantas beralih ke tumpukan karung yg penuh debu dan kotor tentunya. Beliau memilah dengan teliti antara karung yang kotor ataupun yg berlubang dipisahkan dan dikategorikan sebagai karung bekas. Tak selesai dia sampai disitu, ketika karung bekas tersebut sudah terkumpul lantas beliau mengangkatnya ke belakang sumur untuk dicuci satu persatu hingga bersih, dan tentu saja nilai jualnya meningkat dibandingkan karung bekas yang kotor, oleh karena itu aku tak pernah menyalahkan beliau ketika sangat jarang mengantarkanku menuntut ilmu. Mengecup pipinya di pagi hari saja itu sudah lebih dari cukup buatku untuk semangat menimba ilmu.


Beliau yang sanggup mengatur rumah tangga dan sanggup bertahan di tengah keluarga sederhana yg aku miliki. Ibu pula yang selalu membela dan memberikanku perlindungan ketika aku dihukum bapakku atas kesalahan yang aku perbuat saat itu. Bahkan ada satu kisah dimana saat itu aku tidak ikut ibuku datang ke salah satu acara pernikahan [dibaca : nyumbang (bhs.jawa)] karena saat itu aku sedang bermain dengan temanku, ketika ibuku pulang dari acara pernikahan tersebut akupun menanyakan dia pulang dari mana, ketika dia menjawab dia pulang dari “nyumbang”, ketika itu pula aku merengek padanya untuk pergi ke acara pernikahan tempat yang sama, dan uniknya beliau menuruti permintaan manjaku saat itu, akhirnya beliau mengajakku ke acara pernikahan yang sama sebelumnya dia kunjungi beberapa menit yang lalu, hingga membuat tuan rumah tertawa melihat tingkahku saat itu, namun meskipun begitu ibuku masih tetap tersenyum kepadaku. Ketika ibuku pergi keluar bersama bapakku, dia tak pernah lupa dengan jajan kesukaanku saat itu, yaitu ASTOR, mungkin sebagian dari kalian mengenal jajanan anak yang satu itu, ibuku tak pernah lupa untuk membelikanku setelah dia berpergian, betapa manjanya aku saat itu. Mungkin dulu aku bisa terbilang sering membuat ibuku menangis karena sikap manjaku yang sudah melampaui batas atau bisa disebut berlebihan, dan sekarang ibuku yang membuatku sering menangis karena tak sanggup lagi memeluknya. Meskipun tak banyak waktu yg kulalui bersamanya, tapi aku telah puas bermanja dengannya, aku sungguh bangga dengan sosok beliau sebagai ibu kandungku. Aku sangat bersukur kepda Allah SWT karena telah menurunkanku ke bumi melalui rahim ibuku, namun aku merasa orang yang paling menyesal di dunia ini karena sangat jarang mengucapkan terima kasih ke ibuku saat itu, karena ketulusan yg teramat sangat dari beliau kepadaku yang membuatku selalu nyaman berada disisinya, hingga aku terlupa mengucapkan kepadanya sebuah kata terima kasih. Wahai sahabat-sahabatku, sudahkah kalian mengucapkan sekedar kata terima kasih kepada ibu kalian tercinta? Aku yakin sebagian kisahku ini ada beberapa pula dari kalian yang mengalaminya, semisal tak ada satupun kisahku yg mirip dengan kisah yang kalian lalui bersama ibu kalian masing-masing, aku mohon sama kalian jangan sekalipun menyalahkannya, karena aku yakin seorang ibu selalu punya caranya tersendiri untuk mencurahkan rasa sayangnya kepada anaknya.


Tak terasa lamanya, sekarang hampir 9 tahun aku tak bisa merasakan pelukan hangat ibuku. Selama itu pula aku merasa kesepian, bahkan terkadang aku tidak tau harus cerita ke siapa ketika aku mendapatkan masalah. Bagiku Ibu adalah seseorang yang paling nyaman untuk dijadikan teman curhat. Aku selalu berdoa kepada Allah SWT agar aku setiap malam bisa bertemu dengan ibuku walau hanya sekedar lewat mimpi, aku sungguh merindukannya. Kerinduanku pada ibuku sudah tak terukur lagi, dan semua kerinduanku itu hanya berakhir pada sebuah bait-bait doa serta ayat-ayat surat Yasin yang kupanjatkan kepada Allah SWT untuknya. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan kepadanya, tentang pengalamanku, tentang sahabatku, tentang masalahku, dan tentang perjalananku 9 tahun terakhir ini yang begitu berat kulalui tanpa sosok dirinya sebagai seorang Ibu. Aku berharap kalian semua tak akan merasakan kehidupan yang berat seperti 9 tahun terakhir yang kulalui rasanya begitu berat ketika mendengarkan cerita dari yang lainnya tentang hari-hari yang mereka lalui bersama ibu mereka, merasa iri ketika ada anak jalan bersama ibunya, ketika mereka berpelukkan, dan semua itu lah yang selama ini membuat hidupku terasa begitu berat. Berat juga rasanya ketika melihat seorang ibu dimaki anaknya sendiri, atau seorang anak yang merasa malu dan risih ketika pergi bersama ibu mereka ke suatu tempat.


Tak seharusnya kita malu ataupun risih melakukan hal semacam itu, karena merekalah ibu kita sendiri, yang telah dengan sabar mengandung kita 9 bulan dan melahirkan kita dari rahimnya, jika bukan ibu ibu kita yg melahirkan kita bukan tidak mungkin cerita kehidupan kita sekarang tak kan seperti ini, bisa jadi kita tak kan seperti sekarang ini, bukankah semuanya adalah anugerah yang Allah SWT berikan melalui perantara ibu kalian masing-masing? Allah SWT Maha Mengetahui atas segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini. Bahkan aku rela menghabiskan sebagian uang beasiswaku jika memang saat ini ibuku masih bisa aku telfon, aku akan selalu menelfonnya dikala waktu senggangku, dan menanyakan kabarnya, bukankah seorang ibu akan sangat bahagia ketika ia di telfon oleh seorang anaknya, meskipun dia hanya sekedar ditanyai kabar. Jangan sampai kita hanya menelfon orang tua kita, hanya disaat kita membutuhkannya. Beberapa menit ngobrol dengan mereka ditelfon tak kan membuat nilai ujian kita menurun, tak kan membuat waktu belajar kita berkurang, serta tak kan mengganggu rutinitas yg kita jalani. Bukankah dulu mereka selalu ada waktu untuk kita, tapi kenapa kita jauh malah seakan membuat diri kita sibuk sendiri, dan kita menelfon mereka hanya disaat kita butuh pertolongan seperti meminta uang kiriman, bukankah hal semacam itu adalah hal bodoh yg terkadang kita lakukan. Sudah saatnya kita sadar betapa berharganya orang tua kita. Sudahkah kita meminta maaf, memeluk dan berterima kasih kepada mereka? Lakukanlah selagi kita bisa dan lakukanlah selagi mereka masih ada.

 #Tulisan ini spesial untuk : DevilSmansa2011
-Penulis : Ullih Hersandi-
^^Ankara-Turkey, 20 Juli 2012^^

0 komentar:

Poskan Komentar